Guruku habib hasan al haddad
Assalamualaikum saya ingin menceritakan sedikit tentang guru
saya yang memimpin pondok pesantren al habib sholeh bin alwi al haddad yang
bertempat di sungai Ambawang, Pontianak, Kalimantan Barat.
Guruku bernama hasan
biasa orang memanggilnya habib hasan dan kami sebagai santri maupun alumni biasa
memanggilnya abuya hasan. Beliau adalah anak pertama dari habib musthofa bin
sholeh al haddad, dan kakek beliau yaitu habib sholeh bin alwi al haddad
berasal dari kota Tarim, Yaman.
Guruku Habib Hasan
mempunyai adik yang bernama Habib Husein yang membantu beliau mengurus pondok,
beliau habib Husein mengurus dalam bidang air. Jika ada air yang tidak jalan
atau mengalir maka beliaulah yang mengurusnya.
Beliau adalah
pemimpin pondok, beliau adalah pedoman kami selagi di pondok dengan sifat
tawadhu (rendah diri) terhadap siapa pun bahkan ketika bersama kami beliau
seperti orang biasa, namun kami sebagai santri beliau selalu menghormati beliau
tanpa disuruh karena kami tau seorang guru sangat lah mulia bahkan saidina Ali
bin Abi thalib pernah berkata “ aku adalah budak bagi siapa yang mengajarkan ku
satu huruf “ maka dari itu kami sebagai santri sangat memuliakan guru kami
walau tanpa disuruh sekali pun.
Guruku habib
hasan selalu menjadi panutan kami dengan sifat rendah dirinya, beliau sering
menggunakan sarung dan taqwa putih dengan peci berwarna dan selalu menggunakan
kacamata khasnya yang selalu dipakai kemanapun beliau pergi.
Guruku habib
hasan selalu memikirkan kami dan memperhatikan kami beliau adalah guru yang
hebat karena mendidik kamu dengan kasih sayang, beliau selalu tersenyum jikalau
ada santri yang dihukum oleh ustad lain.
Guruku habib
hasan selalu berpesan jangan lah pernah mengisap rokok atau sebagainya, dan
beliau pernah bilang jika ada santri yang merokok maka dia bukanlah santri
saya, aku pun mematuhinya hingga saat ini aku selalu mengingat pesan guruku itu.
Belia memiliki
keamanan di pondok pesantren yang bernama Ustad Abdurrahman. Jika abuya hasan
tidak ada di pondok maka Ustad Abdurrahman lah yang menggantikan posisi beliau.
Ustad Abdurrahman
adalah guru kami juga namun ia menjabat sebagai keamanan di pondok pesantren
beliau juga kaki tangan abuya Hasan Al Haddad. Jika ingin meminta izin pulang
kerumah harus meminta izin kepada beliau terlebih dahulu, jika tidak izin maka
di anggap melanggar peraturan pondok.
Ustad Abdurrahman
selain menjadi keamanan pondok pesantren beliau juga seorang penceramah walau
pun hanya di dalam Kota. Beliau mendidik kami sangat begitu keras dengan tujuan
agar kami menjadi orang yang disiplin nantinya.
Ustad Abdurrahman selalu
menggunakan gamis kemana pun ia pergi selalu menggunakan gamis kecuali, beliau
sedang berolahraga. Beliau juga orang yang sangat mencintai sunnah dari menggunakan
siwak sebelum sholat sampai ke hal kecil sekali pun.
Kembali lagi
kepada pemimpin pondok pesantren ku waktu dulu yaitu habib Hasan Al Haddad
beliau orang yang istiqomah dalam melakukan apa pun. Dari beliau kami belajar
sifat rendah diri yang tidak membanggakan apa yang dimilikinya.
Aku selalu
mencontoh apa yang beliau lakukan. Beliau juga seseorang yang sangat bijaksana
dalam mengambil keputusan. Sebagai pemimpin pondok banyak beban yang harus
ditanggung karena beliau harus memperhatikan santri, bangunan pondok yang masih
dalam proses belum lagi masalah-masalah yang di hadapi Abuya Hasan. Namun
beliau tidak pernah menampakkan suatu masalah yang terdapat pada dirinya,
beliau menanggung semua beban dengan sendirinya.
Beliau adalah guru
kami yang sangat kami banggakan bukan karena kekayaannya bukan karena
kepintarannya namun dengan sifat rendah hatinya yang selalu membuat kami
terkagum ketika melihat beliau mengamalkan sifat rendah hatinya itu kepada
orang lain.
Beliau tidak
pernah marah jika kami mengganggu kebun beliau atau pun peliharaan beliau
malahan beliau hanya tersenyum melihat apa yang kami lakukan pada kebun dan
peliharaan beliau. Tetap beliau sangat marah ketika salah seorang santri
merusak barang yang berada di pondok lebih tepatnya yang bersangkutan dengan
pondok karena beliau bilang itu bukanlah milik saya itu milik pondok pesantren.
Jadi siapa pun yang merusak barang pondok maka ia harus menggantinya.
Beliau juga akan
marah ketika ada santri yang berbicara atau bergurau didalam mesjid karena itu
adalah tempat ibadah dan juga biasa dikatak baitullah yaitu rumah allah. Maka
dari itu beliau tidak suka ketika melihat santri bergurau di mesjid.
Beliau juga tidak
mau berhubungan dengan pemerintah, tidak pernah meminta sumbangan kepada
pemerintah, bahkan kemarin beliau menolak tawaran sumbangan dari pemerintah.
Kami sebagai santri tidak tau jelas apa alasan abuya Hasan menolak sumbangan
pemerintah.
Kami sebagai alumni pondok pesantren Al habib
Sholeh Bin Alwi Al Haddad, selalu mengenang kebaikan pendidik kami selalu
mengenang jasa guru kami selalu ingat canda gurau guru kami selalu ingat didikan
yang guru kami berikan kepada kami karena beliau sangat istimewa bagi kami.
Terkadang kami juga membantu pondok pesantren
yang sedang membangun bangunan baru untuk santri baru yang akan datang. Hanya
satu yang kami harapkan dari guru kami yaitu berkah guru, karena berkah seorang
guru adalah nikmat.
Mungkin hanya ini yang bisa saya ceritakan
tentang guru saya yang mendidik saya selagi ada di pesantren jika ada salah
kata dalam pengetikan saya minta maaf, sekian dari saya akhiri sampai disini.
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa
barakatuh