Manajemen Sekolah
Nama
: Rizky cahyono
Nim
: 12001253
Manajemen Sekolah
beberapa
pengertian umum tentang manajemen yang disampaikan oleh beberapa ahli. Dari
Kathryn . M. Bartol dan David C. Martin yang dikutip oleh A.M. Kadarman SJ dan
Jusuf Udaya (1995) memberikan rumusan bahwa : “Manajemen adalah proses untuk
mencapai tujuan – tujuan organisasi dengan melakukan kegiatan dari empat fungsi
utama yaitu merencanakan (planning), mengorganisasi (organizing), memimpin
(leading), dan mengendalikan (controlling). Dengan demikian, manajemen adalah
sebuah kegiatan yang berkesinambungan”.
Sedangkan dari Stoner sebagaimana dikutip oleh
T. Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : “Manajemen adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para
anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya
agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.
Secara
khusus dalam konteks pendidikan, Djam’an Satori (1980) memberikan pengertian
manajemen pendidikan dengan menggunakan istilah administrasi pendidikan yang
diartikan sebagai “keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua
sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien”. Sementara itu,
Hadari Nawawi (1992) mengemukakan bahwa “administrasi pendidikan sebagai
rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama
sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan secara sistematis yang
diselenggarakan di lingkungan tertentu terutama berupa lembaga pendidikan
formal”.
Meski
ditemukan pengertian manajemen atau administrasi yang beragam, baik yang
bersifat umum maupun khusus tentang kependidikan, namun secara esensial dapat
ditarik benang merah tentang pengertian manajemen pendidikan, bahwa : (1)
manajemen pendidikan merupakan suatu kegiatan; (2) manajemen pendidikan
memanfaatkan berbagai sumber daya; dan (3) manajemen pendidikan berupaya untuk
mencapai tujuan tertentu.
T.
Hani Handoko (1995) mengemukakan bahwa : “ Perencanaan (planning) adalah
pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi,
kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat
dalam fungsi ini.”
T.
Hani Handoko mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan: (a)
membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahanperubahan
lingkungan; (b) membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah
utama; (c) memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran; (d) membantu
penempatan tanggung jawab lebih tepat; (e) memberikan cara pemberian perintah
untuk beroperasi; (f) memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai
bagian organisasi; (g) membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah
dipahami; (h) meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; dan (i) menghemat waktu,
usaha dan dana.
Indriyo
Gito Sudarmo dan Agus Mulyono (1996) mengemukakan langkah-langkah pokok dalam
perencanaan, yaitu : a. Penentuan tujuan dengan memenuhi persyaratan sebagai
berikut : (1) menggunakan kata-kata yang sederhana, (2) mempunyai sifat
fleksibel, (3) mempunyai sifat stabilitas, (4) ada dalam perimbangan sumber
daya, dan (5) meliputi semua tindakan yang diperlukan. b. Pendefinisian
gabungan situasi secara baik, yang meliputi unsur sumber daya manusia, sumber
daya alam, dan sumber daya modal. c. Merumuskan kegiatan yang akan dilaksanakan
secara jelas dan tegas
Hal senada dikemukakan pula oleh T. Hani
Handoko (1995) bahwa terdapat empat tahap dalam perencanaan, yaitu : (a)
menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan; (b) merumuskan keadaan saat ini; (c)
mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan; (d) mengembangkan rencana atau
serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan. Pada bagian lain, Indriyo Gito
Sudarmo dan Agus Mulyono (1996).
George
R. Terry (1986) mengemukakan bahwa : “Pengorganisasian adalah tindakan
mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang,
sehingga mereka dapat bekerja sama secara efisien, dan memperoleh kepuasan
pribadi dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan
tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”
Hadari
Nawawi (1992) mengemukakan beberapa asas dalam organisasi, diantaranya adalah :
(a) organisasi harus profesional, yaitu dengan pembagian satuan kerja yang
sesuai dengan kebutuhan; (b) pengelompokan satuan kerja harus menggambarkan
pembagian kerja; (c) organisasi harus mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung
jawab; (d) organisasi harus mencerminkan rentangan kontrol; (e) organisasi
harus mengandung kesatuan perintah; dan (f) organisasi harus fleksibel dan
seimbang.
Ernest
Dale seperti dikutip oleh T. Hani Handoko mengemukakan tiga langkah dalam
proses pengorganisasian, yaitu : (a) pemerincian seluruh pekerjaan yang harus
dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi; (b) pembagian beban pekerjaan
total menjadi kegiatan-kegiatan yang logik dapat dilaksanakan oleh satu orang;
dan (c) pengadaan dan pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan
pekerjaan para anggota menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.
Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh
T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat
unsur esensial proses pengawasan, bahwa : “Pengawasan manajemen adalah suatu usaha
sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan – tujuan
perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan
nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur
penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan
untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara
paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.”
dikemukakan
pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu
: (a) penetapan standar pelaksanaan; (b) penentuan pengukuran pelaksanaan
kegiatan; (c) pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata; (d) pembandingan
pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan;
dan (e) pengambilan tindakan koreksi, bila perlu.
Ngalim
Purwanto (1986) mengelompokkannya ke dalam tiga bidang garapan yaitu : 1)
Administrasi material, yaitu kegiatan yang menyangkut bidang-bidang materi/
benda-benda, seperti ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, gedung dan
alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain. 2) Administrasi personal,
mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan pegawai sekolah, juga
administrasi murid. Dalam hal ini masalah kepemimpinan dan supervisi atau kepengawasan
memegang peranan yang sangat penting. 3) Administrasi